Blog

  • Surat Sultan Abun Nasar Abdul Qahar Banten Kepada Susuhunan Amangkurat Senapati Ingalaga Mataram November 1677 Masehi

    Surat Sultan Abun Nasar Abdul Qahar Banten Kepada Susuhunan Amangkurat Senapati Ingalaga Mataram November 1677 Masehi

    Terjemahan dalam Teks Belanda

    Translaetbrief van den Sulthan Abou Nasar tot Bantam aan den Zousouhounan Amaugh Courat Senopatti Ingalaga. 1

    Dese onderdanige groetenisse van den Sulthan Abou Nazar tot

    Bantam, compt aen myn vader den Sousouhounan Amang Courat

    Senopatty Ingalaga, die gelukkigh, gezegent en oprecht is, mits-

    gaders zoo suyver als een spiegel en een beschermer van Syne

    broederen, adelen en ondersaten en die oock van Godt verhoogt

    is tot een Oprechte Coninck en voorstander van onse religie tot

    Mattaram, achtervolgende Godts geboden ende de wetten der Maho-

    mettanen, gelyck een standaertdrager van Mahometli en dewelcke

    tot alle deughden, geluck en heyl geschapen zy, wien God aller

    hande vermaack ende zegeningen in de werelt eeuwiglyek gunne

    tot loon voor alle Syne goede wereken ende daden, wyders Heer,

    de brief, die myn heer met Tommogon Malaja, Tommogon Tjaccra-

    nagara en Aria Soureng Rana aan my afgesonden hadde, heb ick

    wel ontfangen en den ganschen inhoud van dien volcomentlyck

    verstaan, waarvoor danekbaar blyve; maar dat UE. genegen syt

    de negari Chirebon te verdistrueren, daar bid Ick duysentmaal

    voor, dat UE. sulex niet gelieft te doen en byaldien UE. myn ver-

    soeck niet en wil toestaan, soo sal Godt oock niet geven, dat

    Bantam en Mattaram in vreede blyven sal, voorts versoeckt UE.

    oock, om de Maccassaer, die binnen Bantam is, te mogen hebben

    genaemt: Aria Danou Radja. Ick bidde U oock ten hoochsten my

    daervan gelieft te exeuseeren en niet qualyck alf te nemen, dewyl

    wy van outsher van één religie syn en Aria Danou Radja een

    neeff van Crain Glisson; dit is al ’tgene ick te seggen hebbe.

    Deze brief, hoewel daarin de Soesoehoenan met oorlog bedreigd wordt, ingeval

    hij Cheribon mogl aantasteu, is in eerbiedigen toon geschreven. Men honde daarbij

    echter in het oog, dat deze brief is van Aboe’1 Natzar, den jongen Sultan van Bantam.

    Later declcu wij een brief van den ouden regerenden Sultan, Ageng, mede, waarin

    met minachting tot den Soeboehoeuan het woord wordt gevoerd.

    Terjemahan dalam Bahasa Indonesia (Edisi Diplomatik)

    Terjemahan Surat dari Sultan Abun Nasar di Banten kepada Susuhunan Amangkurat Senopati Ingalaga.1

    Salam hormat yang penuh kerendahan hati ini dari Sultan Abun Nasar di Banten, disampaikan kepada ayahku Susuhunan Amangkurat Senopati Ingalaga, yang berbahagia diberkahi dan yang berhati tulus; yang juga sebersih cermin, dan pelindung kepada saudara-saudaranya, para bangsawannya, dan rakyatnya; dan yang oleh Allah telah diangkat menjadi seorang raja serta pelindung agama kita di Mataram; yang mengikuti perintah-perintah Allah dan hukum-hukum kaum Muslimin; laksana pembawa panji Nabi Muhammad; dan yang diciptakan untuk segala kebajikan keberuntungan dan keselamatan; yang kepada siapa Allah menganugerahkan segala kenikmatan dan keberkahan di dunia untuk selamanyasebagai balasan terhadap segala perbuatan baiknya, selanjutnya wahai Tuan, surat, yang Tuanku melalui Tumenggung Malaya, Tumenggung Cakranagara dan Aria Surengrana telah aku terima dengan baik dan seluruh isinya telah aku kupahami sepenuhnya, untuk itu aku sampaikan terima kasih; tetapi tentang kehendak Yang Mulia untuk menghancurkan negeri Cirebon, untuk hal itu aku memohon seribu kali, supaya Yang Mulia tidak berkenan melakukan hal itu dan apabila Yang Mulia tidak berkenan mengabulkan permohonanku, maka Allah juga tidak menghendaki, bahwa Banten dan Mataram akan tetap dalam perdamaian, selain itu Yang Mulia juga memohon, tentang orang Makasar, yang berada di Banten, supaya diserahkan yang bernama: Aria Danuraja. Aku memohon kepadamu dengan setinggi-tingginya supaya memaafkanku tentang hal ini dan tidak berkenan menanggapinya sebagai sesuatu yang buruk, oleh karena kami sejak dahulu berasal dari satu agama dan Aria Danuraja merupakan keponakan dari Karaeng Galisong; ini semua yang hendak aku sampaikan.

    Surat ini, meskipun didalamnya Susuhunan diancam dengan perang, apabila ia sampai menyerang Cirebon, tetap ditulis dengan nada yang penuh hormat. Namun demikian perlu diperhatikan bahwa, surat ini berasal dari Abu Nasar, Sultan Muda Banten. Kemudian kami jiuga akan menyertakan sebuah surat dari Sultan Tua yang sedang memerintah, Agung, yang didalamnya kata-kata disampaikan kepada Susuhunan dengan sikap yang merendahkan.

    Terjemahan dalam Bahasa Indonesia (Edisi Kritis/Standar)

    Terjemahan Surat dari Sultan Abun Nasar di Banten kepada Susuhunan Amangkurat Senopati Ingalaga.1

    Salam hormat yang penuh kerendahan hati ini dari Sultan Abun Nasar di Banten. Disampaikan kepada ayahku Susuhunan Amangkurat Senopati Ingalaga, yang berbahagia, diberkahi dan yang berhati tulus; yang juga sebersih cermin. Dan pelindung kepada saudara-saudaranya, para bangsawannya, dan rakyatnya. Dan yang oleh Allah telah diangkat menjadi seorang raja serta pelindung agama kita di Mataram; yang mengikuti perintah-perintah Allah dan hukum-hukum kaum Muslimin, laksana pembawa panji Nabi Muhammad. Dan yang diciptakan untuk segala kebajikan, keberuntungan dan keselamatan; yang kepada siapa Allah menganugerahkan segala kenikmatan dan keberkahan di dunia untuk selamanya.Sebagai balasan terhadap segala perbuatan baiknya. Selanjutnya wahai Tuan, surat, yang Tuanku kirimkan melalui Tumenggung Malaya, Tumenggung Cakranagara dan Aria Surengrana telah aku terima dengan baik dan seluruh isinya telah aku kupahami sepenuhnya. Untuk itu aku sampaikan terima kasih. Tetapi tentang kehendak Yang Mulia untuk menghancurkan negeri Cirebon. Untuk hal itu aku memohon seribu kali, supaya Yang Mulia tidak berkenan melakukan hal itu. Dan apabila Yang Mulia tidak berkenan mengabulkan permohonanku, maka Allah juga tidak menghendaki bahwa Banten dan Mataram akan tetap dalam perdamaian. Selain itu Yang Mulia juga memohon tentang orang Makasar yang berada di Banten supaya diserahkan yang bernama: Aria Danuraja.

    Aku memohon kepadamu dengan setinggi-tingginya supaya memaafkanku tentang hal ini dan tidak berkenan menanggapinya sebagai sesuatu yang buruk. Oleh karena kami sejak dahulu berasal dari satu agama dan Aria Danuraja merupakan keponakan dari Karaeng Galisong. Ini semua yang hendak aku sampaikan.

    Surat ini, meskipun didalamnya Susuhunan diancam dengan perang, apabila ia sampai menyerang Cirebon, tetap ditulis dengan nada yang penuh hormat. Namun demikian perlu diperhatikan bahwa, surat ini berasal dari Abu Nasar, Sultan Muda Banten. Kemudian kami jiuga akan menyertakan sebuah surat dari Sultan Tua yang sedang memerintah, Agung, yang didalamnya kata-kata disampaikan kepada Susuhunan dengan sikap yang merendahkan.

    Sumber: “XXXIX Translaetbrief van Abou’l Nazar, Sulthan (2e) van Bantam aan den Sousouhounan” dalam “De Opkomst van Het Netherlandsch Gezag in Oost Indie: Verzameling van Onuitgegeven Stukken Uit Het Oud-Koloniaal Archief” (Zevente Deel) yang disunting oleh JHR MR JKJ De Jonge (Adjunct-Rijks-Archivaris) dan diterbitkan oleh Martinus Nijhoff di ‘s Gravenhage dan Frederik Muller di Amsterdam tahun MDCCCLXIII (1863) pada halaman 170. Surat salinan dalam bahasa Belanda yang menjadi rujukan dalam buku tersebut, masih tersimpan dengan baik di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

    Disalin ulang dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Gelar Taufiq Kusumawardhana/Yayasan Buana Varman Semesta (YBVS) pada Jum’at, 10 Januari 2025 di Bandung.

  • Surat Sultan Abdul Fath Abdul Fatah Kepada Susuhan Amangkurat Senapati Ingalaga 22 April 1678

    Surat Sultan Abdul Fath Abdul Fatah Kepada Susuhan Amangkurat Senapati Ingalaga 22 April 1678

    Terjemahan dalam Bahasa Belanda

    Translaat van den brief, dien de Banthamse Sulthan

    Agon, geschreven heeft aan den Sousouhounangh

    Amancourat Sinnepatty Ingalaga, ontfangen op

    Japara den 22 April per de Sourouans, die de

    Sousouhounan Amancourat nu eenige maanden ge-

    leden naar Bantam afgesonden hadde.

    Dit is een brief van uw ouder broeder tot Bantam geschreven,

    aan u myn jonger broeder, Sousouhounangh Aman Courat Sinnepatty

    Ingalaga; wyders hebt gy, jonger broeder tot my als UE. gesanten

    overgesonden, Tommagon Maleya en Tommagon Tsiacranagara met

    een brief, deweleke in gesontheyt tot my overgecomen syn en heb

    iek ontlangen het stalen roer, dat myn jonger broeder my gesonden

    heeft. Alle de woorden van myn jonger Broeder, in den brief vervat,

    alsmeede de mondelinge beveelen van Tommagon Malaya en Tom-

    magon Tsiacranagara hebbe iek met God, wel begreepen. Wat nu

    belanght dat myn jonger broeder my versoeekt, dat iek yemandt wilde

    afsenden om aanwysinge te doen van liet Sirrebonse geschut, doch

    dit is onnoodigh, want soo myn jonger broeder geneegen is, om my

    dezelve wederom te geeven is aldaar onder myn jonger broeder volk

    en onderdanen genoegh, die dezelve wel kennen; die geene die gy

    bemint is ons door Tommagon Siacranagara bekent gemaakt, alsoock

    wat myn jonger broeder die aangaande versoeeken liet, deselve is

    wel door den Sulthan Samsoedin van den pangeran Chirrebon afgeset;

    maar eenlyk omdat hy hoorde, dat sy niet naar behooren van Pan-

    geran Singesary gesclieyden was; oock versoeckt uw ouder broeder

    dat ghy myn jonger broeder, hem naar deesen niet meer gelieft voor

    te houden versoeeken, die met de wet en het reght der Mahometisten

    niet overeen en komt; ten anderen versoeckt uw ouder broeder meede,

    dat ghy niet en wilt doen, hetgeene strydigh is en niet overeenkomt

    met het voors. gelooff of anders kan ik u niet voor myn oprechten

    broeder aanneemen opdat God de Heere u in alles bystaan magh;

    noch versoeckt uw ouder broeder, dat ghy niet afwyken wilt van de

    handeling en wandeling uwer voorvaderen, den Sulthan van Damack,

    item myn grootvader Pangeran Sourabaija, die naar onse weth en

    reghten geleeft hebben, dat ik u, myn jonger broeder vermaan hiertoe

    is, omdat uw leeven en geloof als ook uw staat nu tusschen beyde

    schynt’te staan (by de Javanen genoemt offte uytgedruckt Capalangh,

    dat is geen reght Mahometaan, geen reght Christen, geen Conincq

    noch ook geen gemeen man en soo voorts in alle zyn doen en laten)

    dat volgens myn gevoelen in deese werelt geen eere baaren kan,

    ook niet hier namaals tot vreughde gedyen ende opdat uw doen en

    ons doen hier magh geseegent werden en ook hier namaals met

    gerustheyt onses gemoets voor Godt verschynen magh, zoo wil Godt

    u gebeden en u versoght hebben, dat gy, myn jonger broeder oprigt

    den standaart (dat is het geloof van den propheet Mahomet) opdat

    dat geloove magh toeneemen ende krachtig syn cn blyven, nevens

    dit soo wil ik u myn jonger broeder ook vermanen, dat gy gedenkt

    dat Godt u in de weerelt het leeven verleent en u heeft laten voort-

    comen; de sterekte komt van dien eygen Godt, oock de zwackheyt,

    als het Godt nu gelieft ons stercte te verleenen, zoo zullen wy sterk

    worden en als het Hem gelieft ons te verswakken, soo worden wy

    oock swack, daarom vermaan ik u, myn jonger broeder, nochmaels

    ernstig, dat gy doch wilt gedenken, dat geen dingen kracht noch

    sterkte hebben, maar dat haare kracht van Godt kome, die alleen

    de macht heeft. Soo nu myn jonger broeder naar myn vermaningh

    luysteren ende deselve achtervolgen wil, soo sal Godtu ook zeegenen

    en bystaan en uw troon bestendigh maken, daar ick Hem oock om

    bidde, daar gy nu van uw tliroon versteecken zyt, en zoo de menschen

    zeggen, zoo schynt myn jonger broeder, met zijn volck onderdanen

    van de Ed. Compagnie geworden te zyn, als blyvende altyttot Japara

    onder haar, wyders verzoekt uw ouder broeder, dat zoo gy, myn

    jonger broeder met my, uw ouder broeder in opreghte broederschap

    wilt leven, dat ghy niet van uw welvaart en geloove wilt afwyken,

    al moest gy oock de eere van deese werelt missen, want alle de

    kinderen Adams leeven niet lange in deese werelt en bennen allen

    den dood onderworpen, ja, al dat leeft, self ook gy myn jonger

    broeder, die thans in de werelt zyt, zult al meede naar de eeuwig-

    heyt moeten gaan; dit zyn dan alle myne vermaningen, die ghy

    myn jonger broeder, by dach en by nacht niet naarlaten moet om

    te overdenken, opdat Godt u, myn jonger broeder, bystaan en in

    uw ryk herstellen mach en opdat gy, binnen de Mattaram het geloove

    weder oprechten meught. Al hetgeene Ick te seggen hebbe, staat

    in deesen brief.

    Terjemahan dalam Bahasa Indonesia (Edisi Diplomatik)

    Terjemahan surat, dari Sultan Agung Banten, surat ditujukan kepada Susuhunan Amangkurat Senapati Ingalaga, yang diterima di Jepara pada tanggal 22 April melalui para Utusan, yang beberapa bulan sebelumnya telah dikirimkan Susuhunan Amangkurat ke Banten.

    Ini adalah surat dari kakakmu yang ditulis di Banten, kepada engkau, adikku, Susuhunan Amangkurat Senapati Ingalaga; selanjutnya, engkau, wahai adikku, telah mengirimkan kepadaku para utusan dari Yang Mulia, yaitu Tumenggung Malaya dan Tumenggung Cakranagara beserta sepucuk surat, yang telah sampai kepadaku dalam keadaan baik dan aku telah menerima senjata api laras panjang yang telah adikku kirimkan kepadaku. Segala perkataan dari adikku yang termuat dalam surat tersebut, sebagaimana juga dengan perkataan lisan melalui Tumenggung Malaya dan Tumenggung Cakranagara insya-Allah, telah aku pahami dengan baik. Adapun mengenai hal bahwa adikku memohon kepadaku, agar aku mengirimkan seseorang untuk memberikan petunjuk tentang meriam Cirebon, hal itu tidaklah diperlukan, sebab apabila adikku berkenan, mengembalikannya kepadaku maka di sana di antara rakyat dan para bawahan adikku sebenarnya terdapat cukup banyak orang yang mengenalnya dengan baik, orang yang engkau maksud itu telah diberitahukan kepada kami oleh Tumenggung Cakranagara, demikian juga apa yang adikku minta berkenaan dengannya, orang tersebut memang telah diberhentikan oleh Sultan Syamsyudin dari pihak Pangeran Cirebon, melainkan semata-mata karena ia mendengar, bahwa orang itu tidak diberhentikan sebagaimana mestinya oleh Pangeran Singasari, selanjutnya kakakmu memohon, agar engkau adikku tidak lagi berkenan menyampaikan kepadanya permintaan-permintaan seperti itu, yang tidak sesuai dengan hukum dan syariat kaum Muslimin; kedua kakakmu juga memohon, agar engkau tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dan tidak sejalan dengan keyakinan tersebut apabila tidak maka aku tidak dapat mengakui engkau sebagai saudara yang sejati, semoga Allah menolongmu dalam segala hal; kakakmu memohon, agar engkau tidak menyimpang dari perilaku dan jalan hidup nenek-moyangmu, Sultan Demak, serta kakekku Pangeran Surabaya, yang telah hidup sesuai dengan hukum dan syariat kita, adapun aku kepada engkau, wahai adikku menasehati demikian, karena kehidupan dalam keyakinanmu dan keadaanmu yang sekarang tampak berada di antara dua hal (yang oleh orang Jawa disebut atau diungkapkan dengan Kapalang, yaitu bukan seorang Muslim yang sejati, bukan seorang Kristen yang sejati, bukan sepenuhnya seorang Raja dan juga bukan seorang rakyat biasa demikian juga dalam segala perbuatan dan tingkah lakumu) yang menurut pendapatku tidak dapat membawa kehormatan di dunia ini, dan juga tidak akan menghasilkan kebahagiaan di akhirat dan agar perbuatanmu dan perbuatan kita di dunia dapat diberkahi serta kelak dapat menghadap Allah dengan hati yang tentram, maka aku memohon dan mengharapkan kepadamu wahai adikku, agar engkau menegakkan panji (yaitu agama Nabi Muhammad SAW) supaya agama itu dapat berkembang menjadi kuat dan tetap kokoh, selain itu, aku juga menasihatimu adikku, agar engkau mengingat bahwa Allah lah yang telah menganugrahkan kehidupan kepadamu di dunia ini dan yang telah menjadikanmu ada; kekuatan itu berasal dari Allah yang sama, demikian juga dengan kelemahan, apabila Allah berkehendak memberi kita kekuatan, maka kita menjadi kuat dan apabila Dia berkehendak melemahkan kita, maka kita pun akan menjadi lemah, oleh karena itu aku menasihatimu, wahai adikku, sekali lagi dengan sungguh-sungguh, agar engkau benar-benar mengingat, bahwa tidak ada sesuatu pun yang memiliki kekuatan atau daya, melainkan bahwa kekuatan itu berasal dari Allah, hanya Dia saja lah yang memiliki kuasa. Maka apabila adikku mau mendengarkan nasihatku dan mengikutinya, niscaya Allah juga akan memberkatimu menolongmu dan meneguhkan takhtamu, hal yang juga aku mohonkan kepada-Nya, karena engkau tampak tersingkir dari tahtamu, dan sebagaimana yang dikatakan orang, tampaknya adikku, bersama rakyatnya telah menjadi bawahan Tuan Kompeni, dengan tetap di Japara di bawah kekuasaan mereka, selanjutnya kakakmu memohon, bahwa apabila engkau, adikku hendak hidup bersama aku, kakakmu dalam persaudaraan yang tulus, maka janganlah engkau menyimpang dari kesejahteraan dan keyakinanmu, sekalipun engkau harus kehilangan kehormatan dunia ini, sebab semua anak Adam tidak hidup lama di dunia ini dan semuanya tunduk pada kematian, ya, bahkan semua yang hidup, bahkan engkau adikku, yang kini berada di dunia ini, pada akhirnya harus menuju pada keabadian; inilah seluruh nasihatku, kepadamu adikku, yang tidak boleh engkau lalaikan siang dan malam, agar Allah menolongmu adikku, memulihkan engkau dalam kerajaanmu dan agar engkau, dapat menegakkan kembali agama di Mataram. Segala sesuatu yang hendak aku sampaikan, telah termuat dalam surat ini.

    Terjemahan dalam Bahasa Indonesia (Edisi Standar/Kritis)

    Terjemahan surat, dari Sultan Agung Banten, surat ditujukan kepada Susuhunan Amangkurat Senapati Ingalaga, yang diterima di Jepara pada tanggal 22 April melalui para Utusan, yang beberapa bulan sebelumnya telah dikirimkan Susuhunan Amangkurat ke Banten.

    Ini adalah surat dari kakakmu yang ditulis di Banten, kepada engkau, adikku, Susuhunan Amangkurat Senapati Ingalaga; selanjutnya, engkau, wahai adikku, telah mengirimkan kepadaku para utusan dari Yang Mulia, yaitu Tumenggung Malaya dan Tumenggung Cakranagara beserta sepucuk surat, yang telah sampai kepadaku dalam keadaan baik dan aku telah menerima senjata api laras panjang yang telah adikku kirimkan kepadaku.

    Segala perkataan dari adikku yang termuat dalam surat tersebut, sebagaimana juga dengan perkataan lisan yang disampaikan melalui Tumenggung Malaya dan Tumenggung Cakranagara insya-Allah, telah aku pahami dengan baik.

    Adapun mengenai hal bahwa adikku memohon kepadaku, agar aku mengirimkan seseorang untuk memberikan petunjuk tentang meriam Cirebon, hal itu tidaklah diperlukan. Sebab apabila adikku berkenan mengembalikannya kepadaku, maka di sana di antara rakyat dan para bawahan adikku sebenarnya terdapat cukup banyak orang yang mengenalnya dengan baik. Adapun orang yang engkau maksud itu telah diberitahukan kepada kami oleh Tumenggung Cakranagara. Demikian juga apa yang adikku minta berkenaan dengannya, maka orang tersebut memang telah diberhentikan oleh Sultan Syamsyudin dari pihak Pangeran Cirebon. Melainkan semata-mata karena ia mendengar, bahwa orang itu tidak diberhentikan sebagaimana mestinya oleh Pangeran Singasari. Selanjutnya kakakmu memohon, agar engkau adikku tidak lagi berkenan menyampaikan kepadanya permintaan-permintaan seperti itu, yang tidak sesuai dengan hukum dan syariat kaum Muslimin. Kedua kakakmu juga memohon, agar engkau tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dan tidak sejalan dengan keyakinan tersebut. Apabila tidak maka aku tidak dapat mengakui engkau sebagai saudara yang sejati, semoga Allah menolongmu dalam segala hal. Kakakmu memohon, agar engkau tidak menyimpang dari perilaku dan jalan hidup nenek-moyangmu, Sultan Demak, serta kakekku Pangeran Surabaya, yang telah hidup sesuai dengan hukum dan syariat kita. Adapun aku kepada engkau, wahai adikku menasehati demikian, karena kehidupan dalam keyakinanmu dan keadaanmu yang sekarang tampak berada di antara dua hal (yang oleh orang Jawa disebut atau diungkapkan dengan Kapalang, yaitu bukan seorang Muslim yang sejati, bukan seorang Kristen yang sejati, bukan sepenuhnya seorang Raja dan juga bukan seorang rakyat biasa demikian juga dalam segala perbuatan dan tingkah lakumu) yang menurut pendapatku tidak dapat membawa kehormatan di dunia ini, dan juga tidak akan menghasilkan kebahagiaan di akhirat. Dan agar perbuatanmu dan perbuatan kita di dunia dapat diberkahi serta kelak dapat menghadap Allah dengan hati yang tentram, maka aku memohon dan mengharapkan kepadamu wahai adikku, agar engkau menegakkan panji (yaitu agama Nabi Muhammad SAW). Supaya agama itu dapat berkembang menjadi kuat dan tetap kokoh. Selain itu, aku juga menasihatimu adikku, agar engkau mengingat bahwa Allah lah yang telah menganugrahkan kehidupan kepadamu di dunia ini dan yang telah menjadikanmu ada. Kekuatan itu berasal dari Allah yang sama, demikian juga dengan kelemahan. Apabila Allah berkehendak memberi kita kekuatan, maka kita menjadi kuat dan apabila Dia berkehendak melemahkan kita, maka kita pun akan menjadi lemah. Oleh karena itu aku menasihatimu, wahai adikku, sekali lagi dengan sungguh-sungguh, agar engkau benar-benar mengingat, bahwa tidak ada sesuatu pun yang memiliki kekuatan atau daya, melainkan bahwa kekuatan itu berasal dari Allah. Hanya Dia saja lah yang memiliki kuasa.

    Maka apabila adikku mau mendengarkan nasihatku dan mengikutinya, niscaya Allah juga akan memberkatimu, menolongmu dan meneguhkan takhtamu. Hal yang juga aku mohonkan kepada-Nya, karena engkau tampak tersingkir dari tahtamu. Dan sebagaimana yang dikatakan orang, tampaknya adikku, bersama rakyatnya telah menjadi bawahan Tuan Kompeni, dengan tetap di Japara di bawah kekuasaan mereka. Selanjutnya kakakmu memohon, bahwa apabila engkau, adikku hendak hidup bersama aku, kakakmu dalam persaudaraan yang tulus, maka janganlah engkau menyimpang dari kesejahteraan dan keyakinanmu, sekalipun engkau harus kehilangan kehormatan dunia ini. Sebab semua anak Adam tidak hidup lama di dunia ini dan semuanya tunduk pada kematian, ya, bahkan semua yang hidup, bahkan engkau adikku, yang kini berada di dunia ini, pada akhirnya harus menuju pada keabadian. Inilah seluruh nasihatku, kepadamu adikku, yang tidak boleh engkau lalaikan siang dan malam, agar Allah menolongmu adikku, memulihkan engkau dalam kerajaanmu dan agar engkau, dapat menegakkan kembali agama di Mataram. Segala sesuatu yang hendak aku sampaikan, telah termuat dalam surat ini.

    Sumber: “XXXIX Translaetbrief van Abou’l Nazar, Sulthan (2e) van Bantam aan den Sousouhounan” dalam “De Opkomst van Het Netherlandsch Gezag in Oost Indie: Verzameling van Onuitgegeven Stukken Uit Het Oud-Koloniaal Archief” (Zevente Deel) yang disunting oleh JHR MR JKJ De Jonge (Adjunct-Rijks-Archivaris) dan diterbitkan oleh Martinus Nijhoff di ‘s Gravenhage dan Frederik Muller di Amsterdam tahun MDCCCLXIII (1863) pada halaman 209-211. Surat salinan dalam bahasa Belanda yang menjadi rujukan dalam buku tersebut, masih tersimpan dengan baik di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

    Disalin ulang dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Gelar Taufiq Kusumawardhana/Yayasan Buana Varman Semesta (YBVS) pada Jum’at, 30 Januari 2025 di Bandung.